Wednesday, July 17, 2013

Proses Fotosintesis


Laporan Praktek

Hasil Dari Fotosintesis Pati/Amilium


ABSTRAK

Proses fotosintesis akan lebih baik bila daun langsung terkena sinar matahari sehingga perubahan air (H2O) dan karbondioksida(CO2) berjalan sempurna. Daun tanaman yang ditutupi oleh kertas timah maka daun tanaman itu akan berubah warna menjadi warna purple gelap yang menunjukkan adanya amilum pada daun. Amilum disusun di dalam kloroplas dan juga di dalam leukoplas. Sebagai tempat untuk penyimpanan penyusun amilum diperlukan bahan berupa glukosa 1-pospat serta bantuan enzim berupa posporilase amilum. Pada daun tanaman apabila ditutupi oleh kertas timah maka daun tersebut tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh tanaman yang dirobah menjadi gula glukosa, sehingga fungsi daun berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan amilum. Senyawa organik yang merupakan derivate aldehida atau keton dari alkohol polihibrid atau senyawa yang menghasilkan derivat-derivat aldehida atau keton pada reaksi hidrolisis disebut karbohidrat.

PENDAHULUAN

Tumbuhan hijau adalah satu-satunya mahluk hidup yang dapat menghasilkan makanan sendiri (autotrof). Proses pembentukan makanan sendiri oleh tumbuhan hijau disebut dengan fotosintesis. Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya, dan sintesis yang berarti menyusun.Jadi fotosintesis dapat diartikan sebagai suatu penyusunan senyawa kimia kompleks yang memerlukan energi cahaya. Sumber energi cahaya alami adalah matahari. Proses ini dapat berlangsung karena adanya suatu pigmen tertentu dengan bahan CO2 dan H2O. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan berbentuk karbohidrat yang dilakukan oleh tumbuhan, terutama tumbuhan yang mengandung zat hijau daun, yaitu klorofil. Perhatikan persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa berikut ini:
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (Hopkins WG, Hϋner NPA. 2004)
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam organel yang disebut kloroplas. klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis.

TUJUAN PRAKTEK

Membuktikan bahwa pati merupakan bentuk simpanan hasil fotosintesis dan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas fotosintesis pada pohon

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum fotosintesis ini berlangsung pada hari Senin tanggal 08 April 2013 pada pukul 10.20-12.50 WIT, bertempat di Laboratorium Fakultas kehutanan Universitas Negeri Papua

Alat dan bahan :

Daun tanaman, alumunium foil,karbon,etanaol 95%, larutan lKl, penangas air, cawan petri, gelas piala.

Prosedur Kerja :

  •       Selubungi daun dengan menggunakan kertas karbon atau alumunium foil hingga terhindar dari cahaya matahari. Lakukan pada saat matahari belum terbit (malam hari). Biarkan hingga tajuk tanaman terkena sinar matahari beberapa jam. Ambilah daun yang diselubungi tersebut dan di bawa ke laboratorium.
  •             Sebagai pembanding ambil pula daun dari bagian dalam tajuk dan daun dari bagian terluar tajuk yang terkena matahari penuh.
  •             Rendam daun-daun pada larutan alkohol 95 % di atas penangas air selama beberapa menit
  •             Ambil daun dan cuci daun dengan air, kemudian rendam pada larutan lKl.
  •             Amatilah warna daun. Warna ungu menunjukkan adanya pati  dalam daun.
  •            Buatlah skoring tidak berbentuk pati/ tidak berwarna ungu(-); berwarna ungu tipis (+); berwarna ungu berat(++)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Berdasarkan praktek pada tanggal 08 april 2013 dengan membuat skoring seperti :
  •           Tidak berbentuk pati/ tidak berwarna ungu (-); berwarna ungu tipis (+); berwarna ungu berat (++).
Dengan melihat hasil gambar dibawah ini untuk daun :
  •           Tidak berwarna ungu (-) adanya kegagalan dalam praktikum
  •            Berwarna ungu tipis (+) adanya kegagalan dalam praktikum
  •            Berwarna ungu berat (++) adanya kegagalan dalam praktikum
  1.       Sampel daun di dalam tajuk




Dengan kriteria skoring diatas bahwa hasil pengamatan pada daun di dalam tajuk dikategorikan gagal dalam praktikum

  1.         Sampel daun di luar tajuk
Dengan kriteria skoring diatas bahwa hasil pengamatan pada daun di luar tajuk dikategorikan gagal dalam praktikum

  1.       sampel daun yang ditutupi aluminium foil
Dengan kriteria skoring diatas bahwa hasil pengamatan pada daun yangditutup dengan aluminium foil/karbon dikategorikan gagal dalam praktikum


PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh, maka sebagai berikut : Daun yang ditutup ternyata daun masih berwarna hijau atau dapat dinyatakan bahwa tidak tidak ada perubahan dalam proses penutupan dengan amilum.. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa tidak ada pruahan di dalam daun tersebut karena adanya kegagalan di dalam perlakuan dan penutupan dengan kertas timah tersebut,maka dari itu di dalam praktikum tentang fotsintesis . di nyatakat gagal.

KESIMPULAN

Dari hasil pratikum ini dapat disimpulkan bahwa fatosintesis merupkan proses pembuatan gula oleh tanaman dibantu dengan cahaya matahari dan zat hijau daun. Proses fotosintesis :
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (Hopkins WG, Hϋner NPA. 2004)
Proses fotosintesis akan lebih baik bila daun langsung terkena sinar matahari sehingga perubahan air(H2O) dan karbondioksida(CO2) berjalan sempurna. Daun tanaman yang ditutupi oleh kertas timah maka daun tanaman itu akan berubah warna menjadi warna purple gelap yang menunjukkan adanya amilum pada daun. Amilum disusun di dalam kloroplas dan juga di dalam leukoplas. Sebagai tempat untuk penyimpanan penyusun amilum diperlukan bahan berupa glukosa 1-pospat serta bantuan enzim berupa posporilase amilum. Pada daun tanaman apabila ditutupi oleh kertas timah maka daun tersebut tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh tanaman yang dirobah menjadi gula glukosa, sehingga fungsi daun berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan amilum. Senyawa organik yang merupakan derivate aldehida atau keton dari alkohol polihibrid atau senyawa yang menghasilkan derivat-derivat aldehida atau keton pada reaksi hidrolisis disebut karbohidrat.


DAFTAR PUSTAKA

Hopkins WG, Hϋner NPA. Persamaan reaksi fotosintesis, 2004.
Sukasains; Bagaimana Tumbuhan Memproduksi Makanan Sendiri, October 23rd, 2012 

LAMPIRAN

  •  adakah perbedaan antara daun yang terkena matahari dan tidak terkena matahari ? mengapa demikian?
  • Bagaimana anggapan saudara apakah daun yang berada dalam tajuk terdalam dan tidak terkena matahari tersebut berguna bagi tanaman. Jelaskan alasan saudara.
  • Apakah tanaman selalu menyimpan hasil fotosintesis dalam bentuk pati?
  • Apakah makna yang dapat saudara peroleh dari percobaan ini apabila dikaitkan dengan praktek silvikultur khususnya pemangkasan dan penjarangan?
  • Hutan dikaytakan sebagai paru-paru dunia karena kemampuan mengikat karbon (C) dari karbondioksida diudara. Terangkan bagaimana prosesnya dan dalam bentu apa karbon (C) disimpan dalam tanaman?                      

Jawaban :

  • Dau yang tidak terkena matahari warnanya menjadi purple gelap yang menunjukkan adanya amilum pada daun. Sedangkan yang terkena matahari cerah.
  • Menurut saya tidak berguna karena tanaman atau daun yang tidak terkena matahari tidak akan melakukan proses fotosintesis jadi tanaman itu hanya menyimpan patinya didalam kloroplas saja dan tidak menyebarkannya keseluruh bagian tumbuhan.
  • Ya
  • Maknanya dari percobaan dengan praktek silviculture khususnya pemangkasan dan penjarangan adalah bahwa dengan dilakukan penjarangan dan pemangkasanmaka bagian tumbuhan yang tidak produktif bisa dibuang dan diganti dengan bagian tumbuhan yang produktif.
  • Prosesnya fotosintesis 6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (Hopkins WG, Hϋner NPA. 2004). Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. 

Monday, July 15, 2013

PENGERTIAN KITIN


Pengertian Kitin

Kitin berasal dari bahasa yunani Chitin, yang berarti kulit kuku, merupakan komponen utama dari eksokeleton crustacean yang berfungsi sebagai komponen penyokong dan pelindung. Senyawa kitin adalah suatu polimer golongan poli sakarida yang tersusun atas satuan-satuan N-asetilglukosamina melalui ikatan ß-(1,4), yang secara formalnya dapat dipertimbangkan sebagai suatu senyawa turunan selulosa yang gugus hidroksil pada atom C-2 digantikan gugus asetamina (Apsari, 2010)


Kitin adalah polisakarida struktural yang digunakan untuk menyusun eksoskleton dari artropoda (serangga, laba-laba, krustase, dan hewan-hewan lain sejenis). Kitin tergolong homopolisakarida linear yang tersusun atas residu N-asetilglukosamin pada rantai beta dan memiliki monomer berupa molekul glukosa dengan cabang yang mengandung nitrogen. Kitin murni mirip dengan kulit, namun akan mengeras ketika dilapisi dengan garam kalsium karbonat.Kitin membentuk serat mirip selulosa yang tidak dapat dicerna oleh vertebrata. 



Kitin adalah polimer yang paling melimpah di laut. Sedangkan pada kelimpahan di muka bumi, kitin menempati posisi kedua setelah selulosa.Hal ini karena kitin dapat ditemukan di berbagai organisme eukariotik termasuk serangga, moluska, krustase, fungi, alga, dan protista(http://id.wikipedia.org/wiki/Kitin)

Gambar 1. Saccharomyces cerevisiae dengan dinding kitin

Sumber-sumber kitin


Kitin merupakan senyawa terbanyak kedua setelah selulosa sebagai komponen organic yang paling banyak tersedia di alam. Kitin banyak ditemukan secara alamiah pada kulit jenis crustacean, antara lain kepiting, udang dan lobster. Kitin juga ditemukan di beberapa jenis serangga, zoo-plankton serta dinding sel jamur. Kandungan kitin pada setiap hewan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1: Persentase kitin pada hewan


Sumber % Kitin
Fungi (jamur) 5-20%
Worms (cacing) 3-20%
Squigs/octopus (gurita) 30%
Spiders (laba-laba) 38%
Cocroaches (kecoa) 35%
Water beetle (kumbang air)37%
Silk worm 44%
Hermit crab 69%
Kepiting 71%
Udang 20-30%

Sumber: Muzzerlli, 1985

Struktur dan sifat kitin, kitosan

Kitin merupakan polimer dengan berat molekul besar, yaitu gugusan dari 2-acetamido-2deoxy-D-glucopiranosil dengan ikatan β-(1→4) (BeMiller, 1965). Kitin memiliki struktur yang hampir sama dengan selulosa, perbedaanya terletak pada atom C2 yang berikatan dengan amin, sedangkan selulosa berikatan dengan gugus hidroksil (Bonderias et al., 2005).
Kitin secara alami ditemukan dalam tiga bentuk yaitu α, β, γ, parameter ini diuji dengan sinar X. Bentuk α dan γ kitin adalah unit yang antiparalel, serta paling banyak ditemukan di alam dan β kitin adalah struktur yang paralel (Hudson dan Jenkins, 2002). Kitin punya dua gugus hidroksil pada atom C3 dan C6 pada polimer N-asetil-g-glukosamine. Gugus OH pada C6 lebih reaktif dari C3, senyawa ini tidak larut dalam asam organik (Hirano, 2005).
Kitosan memiliki struktur linear yang terdiri dari 2-amino-2 deoxy-β-dglucopyranan (β–d-glukosaminan) yang dihubungkan dengan rantai (1→4) (Hirano, 2004). Kitosan merupakan kitin yang terdeasetilasi minimal 50 % sehingga 50% amin terbebas (Rinaudo et al., 2005). Sifat dari kitosan sangat tergantung pada derajad deasetilasi dan berat molekul. Kitosan larut dalam larutan asam organik dan membentuk kation. Gugus amin dari kitosan mempunyai pKa 6,5 sehingga membutuhkan pH di bawah 6 untuk melarutkan kitosan (Hudson dan Jenkins, 2002).

Tuesday, July 9, 2013

100 nama kayu di indonesia



100 Nama-nama Kayu Perdagangan, Ilmiah, dan Nama daerah dan

kelompok jenis meranti

NO
NAMA ILMIAH
NAMA PERDAGANGAN
NAMA DAERAH
1.
Rhizophora spp. dan Bruguiera spp
Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang, Putut, Busing, Mata buaya
2.
Balang, Walang, Wadang, Wayu
3.
Benuang bini (Klm.), winuang (Slw.)
4.
Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal
5.
Calophyllum spp.;
Bintangor, penaga; Nyamplung; Sulatri; Bunoh, bintangur bunut
6.
Pterygota spp.
Kayu wipa
7.
Serianthes minahassae Merr. & Perry (Syn. Albizia minahasae Koord.)
Rayango, Merang, Terangkuse
8.
Grepau
9.
Cenge, Cingo
10.
Duabanga
Benuang laki, Takir, Aras, Raju mas
11.
Eucalyptus spp.; mis. E. alba Reinw.ex Bl., E. deglupta Bl., E. urophylla S.T. Blake
Kayu putih; Leda, aren (Mlku.), tampai; Ampupu (Timor),
12.
Melaleuca spp.
13.
Nauclea spp.
Wosen, Klepu pasir, Anggrit
14.
Vitex spp.
Gopasa
Teraut, Laban
15.
Cratoxylum spp.; mis. C. arborescens (Vahl) Bl., C. cochinchinense (Lour.) Bl.
Madang baro; Mampat, butun; kemutul, temau; edat
16.
Anthocephalus spp. (A. chinensis (Lamk.) A.Rich ex Walp. dan A. macrophyllus (Roxb.) Havil.)
Kelampayan (Mly.), laran (Klm.), semama (Amb.). Ingg.: cadamba.
17.
Kelat, Ki tembaga, Jambu
18.
Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman
19.
Swintonia spp.
Kayu kereta
Rengas sumpung, Merpauh, Bagel mirah
20.
Papung, Kelam, Sentul
21.
Spondias spp.
Kedondong Hutan
Coco, Kacemcem leuweung
22.
Sterculia spp.
Kepuh, Kalupat, Lomes
23.
Kepayang, merpayang (Smt.)
24.
Hampas, impas, tualang ayam
25.
Cananga sp.
Kananga
26.
Dialium spp.; mis. D. indum L., D. platysepalum Baker, D. procerum (v.Steen.) Stey
Kayu lilin; Maranji
27.
Kalumpit, Klumprit, Jelawai, Jaha
28.
Timonius spp.
Seranai, Temirit, Kayu reen
29.
Kundur, Modjiu, Raimagago
30.
Metrosideros spp. dan Xanthostemon spp.
Lompopaito, Nani, Langera
31.
Macaranga spp.
Merkubung, Mara, Benua
32.
Litsea firma Hook f.; Dehaasia spp.
Medang
Manggah, Huru kacang, Keleban, Wuru, Kunyit
33.
Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, Jangkang, Banitan, Pisang-pisang
34.
Myristica spp., Knema spp.
Darah-darah, Tangkalak, Au-au, Ki mokla, Kumpang, Kayu luo, Huru
35.
Lilin, Ki endog, Segi landak
36.
Jongkong, merebung
37.
Merambung, sembung
38.
Kayu malaka (Smt.), cerega (Klm.)
39.
Schima spp.; terutama S. wallichii Korth.
Seru (Jw.), simartolu (Smt.), madang gatal (Klm.)
40.
Gluta aptera (King) Ding Hou
Rengas
41.
Sarangan (Jw.), ki hiur (Sd.), kalimorot
42.
Sengon
Jeungjing, Tawa kase, Sika (Maluku)
43.
Waru gunung, Kalong
44.
Endospermum spp.; mis. E. diadenum (Miq.) Airy Shaw, E. moluccanum (T & B) Kurz, E. peltatum Merr.
Sendok-sendok, kayu labuh (Smt.), kayu bulan (Mly.), garung (Klm.); Kayu raja (Mlku.)
45.
Dillenia spp.; mis. D. grandifolia Wall., D. obovata Hoogl., D. pentagyna Roxb.
Sempur, segel, janti, dongi
46.
Suren, kalantas
47.
Fagraea spp.; mis. F. fragrans Roxb., F. sororia J.J. Sm.
Tomasu (Smt.), kulaki (Slw.), malbira, ki tandu
48.
Damuli, Kayu besi
49.
Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, Kayu bulan, Banet, Kayu kalet
50.
Buku ongko, Pejatai, Purut bulu
51.
52.
Campnosperma spp.; mis. C. auriculatum (Bl.) Hook.f., C. brevipetiolatum Volkens, dll.
Tumbus (Smt.), pauh lebi
53.
Pauhan, Antumbus, Talantang
54.
Pinus spp.
Pinus, Damar batu, Uyam
55.
U t u p
56
Pauh kijang, Sepah, Kayu batu
57
Ketangi, wungu (Jw.), tekuyung, benger
58
Michelia spp., Elmerrillia spp.
Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, Kantil (Jw.), Capuka
59
Kayu kuning, Lemo daru
60
Dracontomelon spp.; mis. D. dao Merr. & Rolfe, D. mangiferum Bl.
Dao, basuong (Smt.), sengkuang (Mly.), koili
61
Senna spp.[4]
Juar, Trengguli, Sebusuk, Bobondelan
62
Kayu laut, Papus, Nani laut
63
Ormosia spp.
Kayu ruan, Saga
64
Adina, Kilaki
65
Swietenia spp.; mis. S. macrophylla King, S. mahagoni (L.) Jacq.
Mahoni
66
Dacrydium spp.; Podocarpus spp. dan Phyllocladus spp. Mis. Dacrydium junghuhnii Miq.
Alau, cemantan (Klm.); Jamuju, kayu embun (Slw.), sampinur bunga (Smt.); Sampinur tali; Kayu cina; Ki merah, Sandu
67
Mangifera spp.
Ambacang, Asam, Limus piit, Mempelam, Wani, Mangga
68
Melia spp.; terutama M. azedarach L.
Bawang kungut
69
Nyireh, Niri
70
Quercus spp.
Mempening, Baturua, Kasunu, Triti
71
Marapat, Teruntum batu
72
Saga, Segawe, Klenderi
73
Gluta spp.; Melanorrhoea spp.
Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung
74
Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi, Miang
75
Manilkara spp.; mis. M. fascicularis H.J. Lam & Maas Geest., M. kauki (L.) Dub.
Subo, Ki sawo
76
Cordia spp.
Kendal, Klimasada, Purnamasada
77
Sindora spp.; mis. S. bruggemanii de Wit, S. coriacea Maing., S. wallichii Graham
Sepetir (Mly.), sasundur (Klm.), mobingo (Slw.)
78
Pterocarpus indicus Willd.
Angsana, Linggua, Nala, Candana
79
Linggota, sono sungu, sonobrits
80
Jati seberang, Jati londo
81
Sawo manuk (Jw.), karikis (Slw.)
82
Kelampai, Setan, Kedui, Wayang
83
Lontar kuning
84
Manilkara kanosiensis H.j. L. et B. M.
Sawai, Torem
85
Ki hujan
86
Kayu besi, bulian, kokon
87
Beru, Ki hiyang, Bengkal
88
Aleurites mollucana (L.) Willd.
kemiri
tomie (nabire)
89
Amomum acualeatum Roxb.
globak, durian tanah
kokuti (wandamen)
90
Ananas comosus (L.) Merr.
Nanas, nenas
Piamber (Wandamen)
91
Areca macrocalyx Zipp. ex Blume
Pinang hutan
Sunggeri (wandamen)
92
Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg
sukun
Andita (wandamen)
93
Artocarpus incisus (thunb.) L.f.
Terap, buah roti
Pitiyepu (wandamen)
94
Artocarpus vriesianus Miq.
Terap, buah roti
Piyepu (wandamen
95
Baccaurea sp.
Laro

96
Cerbera floribunda K. Schum
bintaro
Kiriwi (wandamen
97
Elaecarpus angustifolius blume
ganitri
Lesahui (manikion)
98
Garcinia latissima Miq.
Manggis hutan
Nanggapu (wandamen
99
Dracontomelon dao (blanco) merr. & rolfe
Dahu, dao
Daar (biak)
100
Gnetum gnemon L.
melinjo
Maraparau (wandamen