Friday, July 26, 2013

Sifat- Sifat Kayu Terutama terhadap Air


Sifat Higroskopis Kayu

Sifat khas kayu.

Mampu melepas dan mengikat kandungan air ke dan dari udara sesuai suhu dan kelembaban udara di sekitarnya.
Bila udara basah (kelembaban tinggi) maka kadar air kayu akan meningkat.
Bila udara kering(kelembaban rendah) maka kadar air kayu akan berkurang.
Kembang Susut
Kayu mengalami penyusutan dan pengembangan ukuran pada perubahan kadar air di bawah Titik Jenuh Serat.
Perubahan kadar air di atas Titik Jenuh Serat tidak menyebabkan perubahan ukuran.
Perubahan dimensi dinyatakan dalam persen dari dimensi maksimum kayu.
Penyusutan (%):

Dimensi Awal - Dimensi Akhir
x
100%
Dimensi Awal

Anisotropis Kayu

Terdapat perbedaan besar penyusutan pada ketiga arah kayu:
Arah tangensial, memiliki penyusutan paling besar, yaitu maksimal 10%
Arah radial, memiliki penyusutan sebesar maksimal 5%
Arah longitudinal, maksimal 0,3 %

Skar (1989) mengemukakan bahwa kayu sebagaimana bahan berlignoselulosa lainnya memiliki sifat higroskopis yaitu  dapat menyerap atau melepas air dari lingkungannya. Tsoumis (1991) menambahkan bahwa air yang diserap dapat berupa uap air atau air dalam bentuk air cair.
                                
Pada kondisi lembab, kayu kering akan menghisap atau menaik uap air, sedangkan pada keadaan kelembaban udara yang rendah, kayu basah akan melepaskan uap air. Sifat higroskopis ini menyebabkan kayu pada kondisi dan kelembaban tertentu dapat mencapai suatu keseimbangan, yang berarti kadar air kayu tidak akan mengalami perubahan. Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa kadar air keseimbangan ini merupakan sebuah ukuran higroskopisitas.

Kadar Air (KA)

Haygreen dan Bowyer (1996) mendefinisikan KA sebagai berat air yang dinyatakan sebagai persen terhadap berat kayu bebas air atau berat kering tanur (BKT)-nya. Di dalam kayu, KA kayu berkisar antara 40 sampai 200%. Keragaman nilai KA dapat terjadi antar spesies, bahkan antar bagian dari pohon yang sama (Forest Product Laboratory Technical 1999).
Air di dalam kayu terdiri dari air bebas dan air terikat dimana keduanya secara bersama-sama menentukan nilai KA kayu. Dalam satu jenis pohon, KA kayu kondisi segar bervariasi tergantung pada tempat tumbuh dan umur pohon (Haygreen dan Bowyer 1996). Brown et. al. (1952) menyatakan bahwa apabila kayu tidak lagi melepaskan atau menyerap air, maka kayu berada dalam kondisi kesetimbangan dengan lingkungan. KA pada kondisi tersebut dinamakan KA keseimbangan (KAK), yang seringkali dianggap sama dengan KA kondisi kering udara (KA-KU).
Besarnya nilai KAK lebih rendah dibandingkan KA-TJS. KAK dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana kayu itu digunakan, terutama suhu dan kelembaban relatif. Menurut Oey Djoen Seng (1964), besarnya KA-KU juga tergantung dari keadaan iklim setempat. Di Indonesia berkisar antara 12 hingga 20%, dan di Bogor sekitar 15%.

Kadar Air Kayu

Kadar air merupakan banyaknya air yang terdapat dalam kayu yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering tanurnya. Air dalam kayu terdapat dalam dua bentuk yaitu air bebas yang terdapat pada rongga sel dan air terikat (imbibisi) yang terdapat pada dinding sel. Kondisi dimana dinding sel jenuh dengan air sedangkan rongga sel kosong, dinamakan kondisi kadar air pada titik jenuh serat. (Simpson, et.al, 1999; Brown, et al., 1952). Kadar air titik jenuh serat besarnya tidak sama untuk setiap jenis kayu, hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur dan komponen kimia. Pada umumnya kadar air titik jenuh serat besarnya berkisar antara 25-30% (Panshin, et.al, 1964). Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa besarnya titik jenuh serat berkisar antara 20-40%.

Kadar Air Titik Jenuh Serat (KA-TJS)

Kondisi dimana rongga sel kosong tetapi dinding sel jenuh terisi air dinamakan kondisi titik jenuh serat (TJS). Kadar air pada kondisi tersebut dinamakan KA-TJS. Titik ini adalah suatu titik kritis, karena dibawah titik ini sifat kayu terganggu oleh adanya perubahan nilai kandungan air. Pada kondisi TJS, perubahan KA akan menyebabkan perubahan berat, volume, dan dimensi kayu (penyusutan dan atau pengembangan) terutama pada arah radial dan tangensial. Perubahan pada arah longitudinal sangat kecil sehingga dapat diabaikan (Haygreen dan Boyer 1996).

Berat Jenis (BJ)

BJ kayu merupakan istilah yang dipakai untuk menunjukkan perbandingan antara kerapatan kayu dengan kerapatan air. Nilai BJ biasanya bertambah jika KA kayu berkurang di bawah TJS-nya (Haygreen dan Bowyer 1996).
Sebagian besar jenis kayu dalam keadaan kering terapung dalam air yang membuktikan bahwa sebagian volume dari kayu berisi rongga-rongga udara dan pori (Forest Product Laboratory Technical 1999). Selain sebagai penduga kekuatan kayu, BJ merupakan suatu indicator yang dapat digunakan untuk menduga mudah tidaknya suatu kayu dikeringkan. Kayu yang memiliki BJ tinggi umumnya sukar dikeringkan dan mengalami cacat lebih besar dibandingkan kayu yang memiliki BJ rendah (Tobing 1995).
Selanjutnya disebutkan bahwa BJ kayu umumnya dipengaruhi oleh ukuran sel, tebal dinding sel serta hubungan antara jumlah sel dengan berat dan tebal dinding sel. Sel serat (fiber) sangat penting pengaruhnya terhadap BJ karena porsinya yang tergolong tinggi sebagai komponen penyusun kayu.
Dengan luasan penampang lintangnya yang relatif kecil, hanya dibutuhkan ruang yang sempit untuk menempatkan jumlah sel yang lebih banyak. Jika serat berdinding tebal dan berongga sempit, maka jumlah rongga udara sedikit dan BJ akan tinggi, sebaliknya jika serat berdinding tipis dan berongga besar maka BJ akan berkurang (Tobing 1976).

Penyusutan

Perubahan KA di atas TJS tidak akan merubah sifat fisis dan mekanis suatu jenis kayu. Sebaliknya perubahan nilai KA di bawah TJS akan mengakibatkan perubahan keteguhan kayu dan diikuti dengan terjadinya penyusutan (bila KA berkurang) atau pengembangan (bila KA bertambah) dimensi.
Menurut Kollmann dan Cote (1968), penyusutan dimensi total dinyatakan sebagai besarnya perbedaan dimensi kayu pada keadaan segar (greenwood) dengan dimensi pada keadaan kering tanur. Nilai penyusutan biasanya dinyatakan sebagai selisih dimensi atau volume dibandingkan
terhadap dimensi atau volume awal, yang dinyatakan dalam persen.
Disebutkan pula penyusutan tangensial berkisar antara 3,5 sampai 15%,sedangkan penyusutan radial sekitar 2,5 sampai 11%. Untuk penggunaan praktis, penyusutan arah longitudinal pada  umumnya diabaikan karena sangat kecil (Haygreen dan Bowyer 1996).
Menurut Tobing (1976), rendahnya nilai susut longitudinal disebabkan karena sebagian besar  arah mikrofibril dalam lapisan dinding sel hampir sejajar terhadap sumbu sel, sedangkan susut  tangensial yang besarnya dua kali dari susut radial, diakibatkan karena adanya tahanan jari-jari,
penyimpangan arah mikrofibril sekitar noktah yang kebanyakan terdapat pada dinding radial  sehingga berpengaruh terhadap penyusutan radial, dan adanya perbedaan struktur dinding sel.
Umumnya kayu dengan BJ tinggi akan menyusut lebih banyak dibandingkan dengan kayu BJ  rendah. Kayu daun lebar (hardwood) biasanya mengalami penyusutan yang lebih besar dibandingkan jenis-jenis kayu daun jarum (softwood ) (Tobing 1995).
Crew dalam Skaar (1972) menyatakan bahwa sel jari-jari merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rasio penyusutan tangensial dan radial.

Sel jari-jari yang pendek dan lebar akan memperkecil penyusutan radial dibandingkan sel jari-jari yang terbentuk panjang tetapi sempit. Pengaruh sudut fibril terhadap sifat penyusutan tangensial dan radial kayu telah dikemukakan oleh Mitchell dan Frey Wiss dalam Skaar (1972)
yang menyatakan bahwa sudut fibril dinding sel radial adalah lebih besar dibanding sudut fibril di dinding sel tangensial. Akibatnya, susut tangensial lebih besar daripada susut radial.
Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), variasi nilai penyusutan pada contoh uji yang berbeda dari spesies yang sama dibawah kondisi yang sama terutama akibat dari tiga faktor yakni: ukuran dan bentuk potongan, kerapatan contoh uji, dan laju pengeringan contoh uji. Menurut Skaar (1972), persen penyusutan volumetris (Sv) dapat ditentukan dengan persamaan Sv = Sr + St
+ Sl – (0,01) (Sr) (St) . Karena nilai Sl sangat kecil dan nilai (0,01) (Sr) (St) kurang dari 0,5%, maka nilai-nilai tersebut biasanya diabaikan, sehingga persamaan diatas menjadi Sv = Sr + St.

Siklus Air Tanah Terhadap Vegetasi



HUBUNGAN AIR TANAH DENGAN VEGETASI

PENGERTIAN AIR TANAH
  Menurut Herlambang (1996) air tanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat didalam ruang antar butir-butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah yang disebut akifer.

MACAM-MACAM AKIFER
ž  Akifer Bebas (Unconfined Aquifer)
ž  Akifer Tertekan (Confined Aquifer)
ž  Akifer Semi tertekan (Semi Confined Aquifer)
ž  Akifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer)

ASAL AIR TANAH
Ò  Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah dan terletak pada zona jenuh air. Air tanah berasal dari permukaan tanah, misalkan hujan, sungai, danau.






SIKLUS AIR TANAH

KLASIFIKASI VEGETASI
  Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).

Ossting (1982), mengklasifikasikan vegetasi terdiri dari 7 macam :
q  Vegetasi Pantai
q   Vegetasi Mangrove/Rawa
q   Vegetasi Payau
q  Vegetasi Gambut
q  Vegetasi Dataran Rendah
q  Vegetasi Dataran Tinggi
q  Vegetasi Pegunungan

HUBUNGAN AIR TANAH DAN VEGETASI

   Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) dapat memberikan stabilitas permukaan tanah yang positif dari jalinan akar dan terhambatnya aliran air di permukaan. Sistim akar tumbuhan yang menyebar secara lateral, keluar dari tumbuhan mengikat butiran tanah menjadi menyatu, meningkatkan kuat geser, atau dapat tumbuh secara vertikal masuk ke dalam tanah hingga menembus lapisan tanah yang lebih stabil.

KESIMPULAN
q  Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah dan terletak pada zona jenuh air
q  Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) dapat memberikan stabilitas pada permukaan tanah


Friday, July 19, 2013

DEFINISI Perkembangan dan Pertumbuhan

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


1.      Perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan ?
  
a        Pertumbuhan adalah suatu proses bertambahnya jumlah sel tubuh suatu organisme yang disertai dengan pertambahan ukuran, berat, serta tinggi yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali pada keadaan semula). Pertumbuhan lebih bersifat kuantitatif, dimana suatu organisme yang dulunya kecil menjadi lebih besar seiring dengan pertambahan waktu.

Contohnya :
Batang tumbuhan yang tadinya 2 cm menjadi 5 cm
Bayi yang beratnya 5 kg berubah menjadi 6,5 kg
Berat tubuh kucing yang tadinya 4 kg menjadi 6 kg
Ketika kita akan mengukur pertumbuhan tumbuhan ada sebuah alat ukur khusus yang dinamakan auksanometer.

b.      Perkembangan adalah suatu proses differensiasi, organogenesis dan diakhiri dengan terbentuknya individu baru yang lebih lengkap dan dewasa. Perkembangan lebih bersifat kualitatif, dimana suatu organism yang sebelumnya masih belum matang dalam sistem reproduksinya (dewasa), menjadi lebih dewasa dan matang dalam sistem reproduksinya sehingga dapat melakukan perkembangbiakan.

Contoh :
Pematangan sel ovum dan sperma
Pematangan hormon-hormon dalam tubuh

Wednesday, July 17, 2013

Proses Fotosintesis


Laporan Praktek

Hasil Dari Fotosintesis Pati/Amilium


ABSTRAK

Proses fotosintesis akan lebih baik bila daun langsung terkena sinar matahari sehingga perubahan air (H2O) dan karbondioksida(CO2) berjalan sempurna. Daun tanaman yang ditutupi oleh kertas timah maka daun tanaman itu akan berubah warna menjadi warna purple gelap yang menunjukkan adanya amilum pada daun. Amilum disusun di dalam kloroplas dan juga di dalam leukoplas. Sebagai tempat untuk penyimpanan penyusun amilum diperlukan bahan berupa glukosa 1-pospat serta bantuan enzim berupa posporilase amilum. Pada daun tanaman apabila ditutupi oleh kertas timah maka daun tersebut tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh tanaman yang dirobah menjadi gula glukosa, sehingga fungsi daun berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan amilum. Senyawa organik yang merupakan derivate aldehida atau keton dari alkohol polihibrid atau senyawa yang menghasilkan derivat-derivat aldehida atau keton pada reaksi hidrolisis disebut karbohidrat.

PENDAHULUAN

Tumbuhan hijau adalah satu-satunya mahluk hidup yang dapat menghasilkan makanan sendiri (autotrof). Proses pembentukan makanan sendiri oleh tumbuhan hijau disebut dengan fotosintesis. Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya, dan sintesis yang berarti menyusun.Jadi fotosintesis dapat diartikan sebagai suatu penyusunan senyawa kimia kompleks yang memerlukan energi cahaya. Sumber energi cahaya alami adalah matahari. Proses ini dapat berlangsung karena adanya suatu pigmen tertentu dengan bahan CO2 dan H2O. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan berbentuk karbohidrat yang dilakukan oleh tumbuhan, terutama tumbuhan yang mengandung zat hijau daun, yaitu klorofil. Perhatikan persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa berikut ini:
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (Hopkins WG, Hϋner NPA. 2004)
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam organel yang disebut kloroplas. klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis.

TUJUAN PRAKTEK

Membuktikan bahwa pati merupakan bentuk simpanan hasil fotosintesis dan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas fotosintesis pada pohon

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum fotosintesis ini berlangsung pada hari Senin tanggal 08 April 2013 pada pukul 10.20-12.50 WIT, bertempat di Laboratorium Fakultas kehutanan Universitas Negeri Papua

Alat dan bahan :

Daun tanaman, alumunium foil,karbon,etanaol 95%, larutan lKl, penangas air, cawan petri, gelas piala.

Prosedur Kerja :

  •       Selubungi daun dengan menggunakan kertas karbon atau alumunium foil hingga terhindar dari cahaya matahari. Lakukan pada saat matahari belum terbit (malam hari). Biarkan hingga tajuk tanaman terkena sinar matahari beberapa jam. Ambilah daun yang diselubungi tersebut dan di bawa ke laboratorium.
  •             Sebagai pembanding ambil pula daun dari bagian dalam tajuk dan daun dari bagian terluar tajuk yang terkena matahari penuh.
  •             Rendam daun-daun pada larutan alkohol 95 % di atas penangas air selama beberapa menit
  •             Ambil daun dan cuci daun dengan air, kemudian rendam pada larutan lKl.
  •             Amatilah warna daun. Warna ungu menunjukkan adanya pati  dalam daun.
  •            Buatlah skoring tidak berbentuk pati/ tidak berwarna ungu(-); berwarna ungu tipis (+); berwarna ungu berat(++)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Berdasarkan praktek pada tanggal 08 april 2013 dengan membuat skoring seperti :
  •           Tidak berbentuk pati/ tidak berwarna ungu (-); berwarna ungu tipis (+); berwarna ungu berat (++).
Dengan melihat hasil gambar dibawah ini untuk daun :
  •           Tidak berwarna ungu (-) adanya kegagalan dalam praktikum
  •            Berwarna ungu tipis (+) adanya kegagalan dalam praktikum
  •            Berwarna ungu berat (++) adanya kegagalan dalam praktikum
  1.       Sampel daun di dalam tajuk




Dengan kriteria skoring diatas bahwa hasil pengamatan pada daun di dalam tajuk dikategorikan gagal dalam praktikum

  1.         Sampel daun di luar tajuk
Dengan kriteria skoring diatas bahwa hasil pengamatan pada daun di luar tajuk dikategorikan gagal dalam praktikum

  1.       sampel daun yang ditutupi aluminium foil
Dengan kriteria skoring diatas bahwa hasil pengamatan pada daun yangditutup dengan aluminium foil/karbon dikategorikan gagal dalam praktikum


PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh, maka sebagai berikut : Daun yang ditutup ternyata daun masih berwarna hijau atau dapat dinyatakan bahwa tidak tidak ada perubahan dalam proses penutupan dengan amilum.. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa tidak ada pruahan di dalam daun tersebut karena adanya kegagalan di dalam perlakuan dan penutupan dengan kertas timah tersebut,maka dari itu di dalam praktikum tentang fotsintesis . di nyatakat gagal.

KESIMPULAN

Dari hasil pratikum ini dapat disimpulkan bahwa fatosintesis merupkan proses pembuatan gula oleh tanaman dibantu dengan cahaya matahari dan zat hijau daun. Proses fotosintesis :
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (Hopkins WG, Hϋner NPA. 2004)
Proses fotosintesis akan lebih baik bila daun langsung terkena sinar matahari sehingga perubahan air(H2O) dan karbondioksida(CO2) berjalan sempurna. Daun tanaman yang ditutupi oleh kertas timah maka daun tanaman itu akan berubah warna menjadi warna purple gelap yang menunjukkan adanya amilum pada daun. Amilum disusun di dalam kloroplas dan juga di dalam leukoplas. Sebagai tempat untuk penyimpanan penyusun amilum diperlukan bahan berupa glukosa 1-pospat serta bantuan enzim berupa posporilase amilum. Pada daun tanaman apabila ditutupi oleh kertas timah maka daun tersebut tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh tanaman yang dirobah menjadi gula glukosa, sehingga fungsi daun berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan amilum. Senyawa organik yang merupakan derivate aldehida atau keton dari alkohol polihibrid atau senyawa yang menghasilkan derivat-derivat aldehida atau keton pada reaksi hidrolisis disebut karbohidrat.


DAFTAR PUSTAKA

Hopkins WG, Hϋner NPA. Persamaan reaksi fotosintesis, 2004.
Sukasains; Bagaimana Tumbuhan Memproduksi Makanan Sendiri, October 23rd, 2012 

LAMPIRAN

  •  adakah perbedaan antara daun yang terkena matahari dan tidak terkena matahari ? mengapa demikian?
  • Bagaimana anggapan saudara apakah daun yang berada dalam tajuk terdalam dan tidak terkena matahari tersebut berguna bagi tanaman. Jelaskan alasan saudara.
  • Apakah tanaman selalu menyimpan hasil fotosintesis dalam bentuk pati?
  • Apakah makna yang dapat saudara peroleh dari percobaan ini apabila dikaitkan dengan praktek silvikultur khususnya pemangkasan dan penjarangan?
  • Hutan dikaytakan sebagai paru-paru dunia karena kemampuan mengikat karbon (C) dari karbondioksida diudara. Terangkan bagaimana prosesnya dan dalam bentu apa karbon (C) disimpan dalam tanaman?                      

Jawaban :

  • Dau yang tidak terkena matahari warnanya menjadi purple gelap yang menunjukkan adanya amilum pada daun. Sedangkan yang terkena matahari cerah.
  • Menurut saya tidak berguna karena tanaman atau daun yang tidak terkena matahari tidak akan melakukan proses fotosintesis jadi tanaman itu hanya menyimpan patinya didalam kloroplas saja dan tidak menyebarkannya keseluruh bagian tumbuhan.
  • Ya
  • Maknanya dari percobaan dengan praktek silviculture khususnya pemangkasan dan penjarangan adalah bahwa dengan dilakukan penjarangan dan pemangkasanmaka bagian tumbuhan yang tidak produktif bisa dibuang dan diganti dengan bagian tumbuhan yang produktif.
  • Prosesnya fotosintesis 6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (Hopkins WG, Hϋner NPA. 2004). Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. 

Monday, July 15, 2013

PENGERTIAN KITIN


Pengertian Kitin

Kitin berasal dari bahasa yunani Chitin, yang berarti kulit kuku, merupakan komponen utama dari eksokeleton crustacean yang berfungsi sebagai komponen penyokong dan pelindung. Senyawa kitin adalah suatu polimer golongan poli sakarida yang tersusun atas satuan-satuan N-asetilglukosamina melalui ikatan ß-(1,4), yang secara formalnya dapat dipertimbangkan sebagai suatu senyawa turunan selulosa yang gugus hidroksil pada atom C-2 digantikan gugus asetamina (Apsari, 2010)


Kitin adalah polisakarida struktural yang digunakan untuk menyusun eksoskleton dari artropoda (serangga, laba-laba, krustase, dan hewan-hewan lain sejenis). Kitin tergolong homopolisakarida linear yang tersusun atas residu N-asetilglukosamin pada rantai beta dan memiliki monomer berupa molekul glukosa dengan cabang yang mengandung nitrogen. Kitin murni mirip dengan kulit, namun akan mengeras ketika dilapisi dengan garam kalsium karbonat.Kitin membentuk serat mirip selulosa yang tidak dapat dicerna oleh vertebrata. 



Kitin adalah polimer yang paling melimpah di laut. Sedangkan pada kelimpahan di muka bumi, kitin menempati posisi kedua setelah selulosa.Hal ini karena kitin dapat ditemukan di berbagai organisme eukariotik termasuk serangga, moluska, krustase, fungi, alga, dan protista(http://id.wikipedia.org/wiki/Kitin)

Gambar 1. Saccharomyces cerevisiae dengan dinding kitin

Sumber-sumber kitin


Kitin merupakan senyawa terbanyak kedua setelah selulosa sebagai komponen organic yang paling banyak tersedia di alam. Kitin banyak ditemukan secara alamiah pada kulit jenis crustacean, antara lain kepiting, udang dan lobster. Kitin juga ditemukan di beberapa jenis serangga, zoo-plankton serta dinding sel jamur. Kandungan kitin pada setiap hewan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1: Persentase kitin pada hewan


Sumber % Kitin
Fungi (jamur) 5-20%
Worms (cacing) 3-20%
Squigs/octopus (gurita) 30%
Spiders (laba-laba) 38%
Cocroaches (kecoa) 35%
Water beetle (kumbang air)37%
Silk worm 44%
Hermit crab 69%
Kepiting 71%
Udang 20-30%

Sumber: Muzzerlli, 1985

Struktur dan sifat kitin, kitosan

Kitin merupakan polimer dengan berat molekul besar, yaitu gugusan dari 2-acetamido-2deoxy-D-glucopiranosil dengan ikatan β-(1→4) (BeMiller, 1965). Kitin memiliki struktur yang hampir sama dengan selulosa, perbedaanya terletak pada atom C2 yang berikatan dengan amin, sedangkan selulosa berikatan dengan gugus hidroksil (Bonderias et al., 2005).
Kitin secara alami ditemukan dalam tiga bentuk yaitu α, β, γ, parameter ini diuji dengan sinar X. Bentuk α dan γ kitin adalah unit yang antiparalel, serta paling banyak ditemukan di alam dan β kitin adalah struktur yang paralel (Hudson dan Jenkins, 2002). Kitin punya dua gugus hidroksil pada atom C3 dan C6 pada polimer N-asetil-g-glukosamine. Gugus OH pada C6 lebih reaktif dari C3, senyawa ini tidak larut dalam asam organik (Hirano, 2005).
Kitosan memiliki struktur linear yang terdiri dari 2-amino-2 deoxy-β-dglucopyranan (β–d-glukosaminan) yang dihubungkan dengan rantai (1→4) (Hirano, 2004). Kitosan merupakan kitin yang terdeasetilasi minimal 50 % sehingga 50% amin terbebas (Rinaudo et al., 2005). Sifat dari kitosan sangat tergantung pada derajad deasetilasi dan berat molekul. Kitosan larut dalam larutan asam organik dan membentuk kation. Gugus amin dari kitosan mempunyai pKa 6,5 sehingga membutuhkan pH di bawah 6 untuk melarutkan kitosan (Hudson dan Jenkins, 2002).

Tuesday, July 9, 2013

100 nama kayu di indonesia



100 Nama-nama Kayu Perdagangan, Ilmiah, dan Nama daerah dan

kelompok jenis meranti

NO
NAMA ILMIAH
NAMA PERDAGANGAN
NAMA DAERAH
1.
Rhizophora spp. dan Bruguiera spp
Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang, Putut, Busing, Mata buaya
2.
Balang, Walang, Wadang, Wayu
3.
Benuang bini (Klm.), winuang (Slw.)
4.
Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal
5.
Calophyllum spp.;
Bintangor, penaga; Nyamplung; Sulatri; Bunoh, bintangur bunut
6.
Pterygota spp.
Kayu wipa
7.
Serianthes minahassae Merr. & Perry (Syn. Albizia minahasae Koord.)
Rayango, Merang, Terangkuse
8.
Grepau
9.
Cenge, Cingo
10.
Duabanga
Benuang laki, Takir, Aras, Raju mas
11.
Eucalyptus spp.; mis. E. alba Reinw.ex Bl., E. deglupta Bl., E. urophylla S.T. Blake
Kayu putih; Leda, aren (Mlku.), tampai; Ampupu (Timor),
12.
Melaleuca spp.
13.
Nauclea spp.
Wosen, Klepu pasir, Anggrit
14.
Vitex spp.
Gopasa
Teraut, Laban
15.
Cratoxylum spp.; mis. C. arborescens (Vahl) Bl., C. cochinchinense (Lour.) Bl.
Madang baro; Mampat, butun; kemutul, temau; edat
16.
Anthocephalus spp. (A. chinensis (Lamk.) A.Rich ex Walp. dan A. macrophyllus (Roxb.) Havil.)
Kelampayan (Mly.), laran (Klm.), semama (Amb.). Ingg.: cadamba.
17.
Kelat, Ki tembaga, Jambu
18.
Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman
19.
Swintonia spp.
Kayu kereta
Rengas sumpung, Merpauh, Bagel mirah
20.
Papung, Kelam, Sentul
21.
Spondias spp.
Kedondong Hutan
Coco, Kacemcem leuweung
22.
Sterculia spp.
Kepuh, Kalupat, Lomes
23.
Kepayang, merpayang (Smt.)
24.
Hampas, impas, tualang ayam
25.
Cananga sp.
Kananga
26.
Dialium spp.; mis. D. indum L., D. platysepalum Baker, D. procerum (v.Steen.) Stey
Kayu lilin; Maranji
27.
Kalumpit, Klumprit, Jelawai, Jaha
28.
Timonius spp.
Seranai, Temirit, Kayu reen
29.
Kundur, Modjiu, Raimagago
30.
Metrosideros spp. dan Xanthostemon spp.
Lompopaito, Nani, Langera
31.
Macaranga spp.
Merkubung, Mara, Benua
32.
Litsea firma Hook f.; Dehaasia spp.
Medang
Manggah, Huru kacang, Keleban, Wuru, Kunyit
33.
Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, Jangkang, Banitan, Pisang-pisang
34.
Myristica spp., Knema spp.
Darah-darah, Tangkalak, Au-au, Ki mokla, Kumpang, Kayu luo, Huru
35.
Lilin, Ki endog, Segi landak
36.
Jongkong, merebung
37.
Merambung, sembung
38.
Kayu malaka (Smt.), cerega (Klm.)
39.
Schima spp.; terutama S. wallichii Korth.
Seru (Jw.), simartolu (Smt.), madang gatal (Klm.)
40.
Gluta aptera (King) Ding Hou
Rengas
41.
Sarangan (Jw.), ki hiur (Sd.), kalimorot
42.
Sengon
Jeungjing, Tawa kase, Sika (Maluku)
43.
Waru gunung, Kalong
44.
Endospermum spp.; mis. E. diadenum (Miq.) Airy Shaw, E. moluccanum (T & B) Kurz, E. peltatum Merr.
Sendok-sendok, kayu labuh (Smt.), kayu bulan (Mly.), garung (Klm.); Kayu raja (Mlku.)
45.
Dillenia spp.; mis. D. grandifolia Wall., D. obovata Hoogl., D. pentagyna Roxb.
Sempur, segel, janti, dongi
46.
Suren, kalantas
47.
Fagraea spp.; mis. F. fragrans Roxb., F. sororia J.J. Sm.
Tomasu (Smt.), kulaki (Slw.), malbira, ki tandu
48.
Damuli, Kayu besi
49.
Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, Kayu bulan, Banet, Kayu kalet
50.
Buku ongko, Pejatai, Purut bulu
51.
52.
Campnosperma spp.; mis. C. auriculatum (Bl.) Hook.f., C. brevipetiolatum Volkens, dll.
Tumbus (Smt.), pauh lebi
53.
Pauhan, Antumbus, Talantang
54.
Pinus spp.
Pinus, Damar batu, Uyam
55.
U t u p
56
Pauh kijang, Sepah, Kayu batu
57
Ketangi, wungu (Jw.), tekuyung, benger
58
Michelia spp., Elmerrillia spp.
Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, Kantil (Jw.), Capuka
59
Kayu kuning, Lemo daru
60
Dracontomelon spp.; mis. D. dao Merr. & Rolfe, D. mangiferum Bl.
Dao, basuong (Smt.), sengkuang (Mly.), koili
61
Senna spp.[4]
Juar, Trengguli, Sebusuk, Bobondelan
62
Kayu laut, Papus, Nani laut
63
Ormosia spp.
Kayu ruan, Saga
64
Adina, Kilaki
65
Swietenia spp.; mis. S. macrophylla King, S. mahagoni (L.) Jacq.
Mahoni
66
Dacrydium spp.; Podocarpus spp. dan Phyllocladus spp. Mis. Dacrydium junghuhnii Miq.
Alau, cemantan (Klm.); Jamuju, kayu embun (Slw.), sampinur bunga (Smt.); Sampinur tali; Kayu cina; Ki merah, Sandu
67
Mangifera spp.
Ambacang, Asam, Limus piit, Mempelam, Wani, Mangga
68
Melia spp.; terutama M. azedarach L.
Bawang kungut
69
Nyireh, Niri
70
Quercus spp.
Mempening, Baturua, Kasunu, Triti
71
Marapat, Teruntum batu
72
Saga, Segawe, Klenderi
73
Gluta spp.; Melanorrhoea spp.
Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung
74
Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi, Miang
75
Manilkara spp.; mis. M. fascicularis H.J. Lam & Maas Geest., M. kauki (L.) Dub.
Subo, Ki sawo
76
Cordia spp.
Kendal, Klimasada, Purnamasada
77
Sindora spp.; mis. S. bruggemanii de Wit, S. coriacea Maing., S. wallichii Graham
Sepetir (Mly.), sasundur (Klm.), mobingo (Slw.)
78
Pterocarpus indicus Willd.
Angsana, Linggua, Nala, Candana
79
Linggota, sono sungu, sonobrits
80
Jati seberang, Jati londo
81
Sawo manuk (Jw.), karikis (Slw.)
82
Kelampai, Setan, Kedui, Wayang
83
Lontar kuning
84
Manilkara kanosiensis H.j. L. et B. M.
Sawai, Torem
85
Ki hujan
86
Kayu besi, bulian, kokon
87
Beru, Ki hiyang, Bengkal
88
Aleurites mollucana (L.) Willd.
kemiri
tomie (nabire)
89
Amomum acualeatum Roxb.
globak, durian tanah
kokuti (wandamen)
90
Ananas comosus (L.) Merr.
Nanas, nenas
Piamber (Wandamen)
91
Areca macrocalyx Zipp. ex Blume
Pinang hutan
Sunggeri (wandamen)
92
Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg
sukun
Andita (wandamen)
93
Artocarpus incisus (thunb.) L.f.
Terap, buah roti
Pitiyepu (wandamen)
94
Artocarpus vriesianus Miq.
Terap, buah roti
Piyepu (wandamen
95
Baccaurea sp.
Laro

96
Cerbera floribunda K. Schum
bintaro
Kiriwi (wandamen
97
Elaecarpus angustifolius blume
ganitri
Lesahui (manikion)
98
Garcinia latissima Miq.
Manggis hutan
Nanggapu (wandamen
99
Dracontomelon dao (blanco) merr. & rolfe
Dahu, dao
Daar (biak)
100
Gnetum gnemon L.
melinjo
Maraparau (wandamen