Sunday, September 15, 2013

MAKALAH EKSPLOITASI HUTAN


MAKALAH EKSPLOITASI HUTAN

Reduce Impact Logging


PENDAHULUAN

Latar belakang

Sistim tebang pilih tanam Indonesia (TPTI) adalah salah satu sistem silvikultur yang merupakan subsistem dari sistem pengelolaan hutan lestari. Sistem TPTI pada hutan alam daratan adalah sistem TPTI yang berlaku pada hutan daratan di wilayah Indonesia. Pelaksanaan suatu sistem silvikultur yang sesuai dengan lingkungan setempat telah menjadi tuntutan demi terwujudnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Sejarah sistem tebang pilih di indonesia secara resmi ditandai dengan diterbitkan surat keputusan direktur jenderal kehutanan no.35/kpts/dd/1/1972 tentang pedoman tebang pilih indonesia, tebang habis dengan permudaan alam,tebang habis dengan permudaan buatan dan pedoman-pedoman pengawasannya. Selama masa pelaksanaannya mengalami permaslahan sehingga di diterbitkan sk menteri kehutanan no. 485/kpts-II/1989 tentang sistem silvikultur penelolaan hutan alam produksi di indonesia. SK ini kemudian ditindak lanjuti dengan sk dirjen pengusahaan hutan no. 564/kpts/IV-BPHH/89 tentang pedoman alam produksi   
Pengelolaan dan pemanenan hutan alam Indonesia diatur dalam sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). Praktek Reduced Impact Logging (RIL) sebetulnya sudah direkomendasikan di dalam TPTI, namun jarang diterapkan di lapangan karena berbagai alasan, antara lain:
1. Kurangnya pengawasan terhadap praktek pemanenan kayu.
2. Kurangnya ketegasan dalam pelaksanaan RIL.
3. Kurangnya pemahaman keuntungan dari pelaksanaan RIL.
4. Kurangnya pemahaman terhadap tahapan yang diperlukan dalam pelaksanaan RIL dan kurangnya keahlian khusus.
Ril adalah suatu sistem pendekatan secara sistematis dalam perencaan,pelaksaan, pemantauan dan evaluasi terhadap pemanenan kayu. Ril merupakan penyempurnaan praktek pembuatan jalan, penebangan dan penyaradan yang saat ini sudah ada

PEMBAHASAN 

PETUNJUK TEKNIS TAHAPAN RIL

SEBELUM PERENCANAAN PEMANENAN

INVENTARISASI HUTAN

Tahapan pertama adalah melaksanakan inventarisasi hutan yang diikuti oleh kegiatan pemetaan topografi dan lokasi pohon. Manual berikut ini menyajikan informasi secara rinci bagaimana mengerjakan hal tersebut : 
  • Pedoman dan Petunjuk Teknis Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) pada Hutan Alam Daratan (Departemen Kehutanan RI, 1993) 
  • Petunjuk Dasar dalam Timber Cruising dan Survei Topografi (Ruslim, 1998)
  • Prosedur Survei Topografi Hutan (TFF&APHI, 2001)

PERSIAPAN PEMETAAN

Pemetaan kontur dan lokasi pohon skala 1:2.000 - 1:5.000 dengan interval garis kontur 5-10 m dapat dihasilkan secara manual atau dengan menggunakan suatu program komputer, misalnya :
  • FIEPLP (Forest Inventory and Product Linking Programme) dari TROPENBOS Foundation Project
  • GENESIS dan GENAMAP Programme dari SFMP- GTZ Project
  • ROADENG Software
  • SIPTOP (Sistem Informasi Pohon dan Topografi) dari PT. INHUTANI I

PENATAAN ZONA AREAL KERJA

AREAL NON PRODUKSI KAYU

Identifikasi areal non-produksi kayu merupakan hal yang penting dalam menentukan dan menetapkan areal produktifZona areal produksi kayu = luas total areal hutan unit manajemen - luas areal non produksi kayuZona areal produksi kayu menjadi dasar luas areal dalam penentuan jatah tebangan tahunan (AAC)

Zona-zona yang dikeluarkan dari areal produksi kayu antara lain :

  • Zona perlindungan dan konservasiZona hutan masyarakat dan masyarakat lokal
  • Zona konservasi keanekaragaman hayati
  • Zona konservasi satwa liar
  • Zona penelitian ilmiah
  • Zona penyangga, antara lain :
  1. Kawasan cagar budaya
  2. Areal penyangga tepi pantai, goba, danau dan mata air
  3. Areal rawan longsor
  4. Areal penyangga kanan-kiri sungai

MANAJEMEN AREAL NON PRODUKSI KAYU

Areal non-produksi kayu dikelola sebagai berikut :
  • Tidak boleh ada penebangan di kawasan tersebut atau di zona penyangga
  • Mesin-mesin tidak boleh masuk ke kawasan tersebut, terkecuali pada sungai yang diijinkan untuk diseberangi
  • Bila memungkinkan, pohon-pohon harus ditebangmenjauhi zona penyangga dan sungai.

PERENCANAAN PEMANENAN

PERENCANAAN JALAN


  • PENGUMPULAN DATA PENTING
Data penting yang perlu di kumpulkan terdiri dari :

  • Potret udara
  • Peta Topografi, skala 1:5.000 sampai 1:25.000
  • Peta Keadaan Hutan, skala 1:25.000 atau 1:50.000
  • Pedoman dan Peraturan Pembukaan Wilayah Hutan
EVALUASI KEMUNGKINAN LOKASI TRASE JALAN

Perlu diidentifikasi :

  • Tempat-tempat akses ke jalan umum dan jalan hutan yang sudah ada
  • Tempat-tempat menguntungkan untuk konstruksi jalan dan pemanenan kayu
  • Bagian-bagian yang datar yang cocok untuk belokan, trase jalan yang lebih baik dan tempat landing

PEMBUATAN RENCANA PEMANENAN

PERENCANAAN LOKASIH TPn

  • Pilih di lokasi yang luas dan cukup datar dengan kemiringan maksimum  6  ͦ
  • Usahakan di atas punggung bukit/pematang
  • Lokasi TPN tidak boleh terletak di dalam areal kawasan lindung dan zona penyangga
  • Lokasi TPN tidak berdekatan dengan sungai
PERENCANAAN JARINGAN JALAN SARAD
  • Jalan sarad didesain selurus mungkin mengikuti kontur
  • Jalan sarad harus menghindari daerah curam, jurang, daerah lembab/paya dan tanah yang labil
  • Kemiringan jalan sarad maksimum 45%
  • Lebar jalan sarad maksimum 4 meter
OPERASI SEBELUM PEMANENAN

 PENAMPANG MELINTANG JALAN KONTUR
  • Kemiringan jalan sampai dengan 20% untuk seksi jalan yang pendek (maksiimum 500 m) dapat diterima bila mengurangi kerusakan/gangguan tanah
  • Tiap dua seksi jalan yang mempunyai kemiringan maksimum absolut harus dipisahkan dengan jalan yang datar atau berkemiringan ringan sepanjang 100 meter
SPESIFIKASI TIKUNGAN JALAN
  • Pelebaran tikungan jalan diperlukan agar trailer dapat jalan agak menepi
  • Lebar pelebaran tikungan berdasarkan kendaraan dengan panjang seluruhnya 14 m
JARAK SALURAN DRAINASE
  1. Semua saluran drainase jalan untuk meminimalkan produksi sedimen
  2. Saluran drainase harus dibuat sebagai berikut:
  • Pada perubahan kemiringan
  • Pada jarak 50 m dari penyeberangan sungai/kali
  • Saluran tambahan agar memenuhi kebutuhan jarak maksimum
PEMBUATAN JALAN
Waktu pembuatan
  • Pembuatan jalan dilaksanakan satu tahun sebelum pemanenan kayu dan tidak boleh dilakukan pada musim hujan.
Pembukaan dan pembebasan
  • Menghilangkan pohon-pohon, tunggak-tunggak dan akar serta penghalang-penghalang lainnya dari areal konstruksi  jalan.
Perataan dan pembukaan
  • Perataan & pembentukan merupakan kegiatan-kegiatan membangun jalan/pembentukan dan perataan badan jalan setelah opening dan clearing.

OPERASI PEMANENAN KAYU



Supervisor produksi

Terlibat langsung dalam pra-perencanaan pemanenan kayu

Melatih dan mensosialisasikan staf terhadap peralatan operasi dan keselamatan kerja

Mengevakuasi dengan cepat pekerja yang luka ke rumah sakit sebagaimana mestinya


Inspektur Blok

Langsung terlibat dalam pra-perencanaan pemanenan kayu
Memeriksa dan mengevaluasi hasil kegiatan penebangan, penyaradan dan kegiatan pasca panen.

Mandor penebangan dan penyaradan

Memastikan bahwa hanya pekerja-pekerja yang berwewenang dan terlatih yang mengoperasikan mesin-mesin

dan peralatan

Mengendalikan dan memantau proses produksi dalam rangka mendapatkan kualitas dan jumlah sesuai target


Penebangan

Memelihara chainsaw agar selalu dalam kondisi operasi yang aman
Menebang pohon sesuai dengan rencana pemanenan kayu atau arah rebah yang tepat
Memotong batang pohon yang telah ditebang sesuai dengan aturan dan prosedur pembagian batang

Pembantu penebang

Membantu mencari lokasi pohon yang akan ditebang
Membantu memeriksa apakah semua pohon yang harus ditebang sudah ditebang
Membawa perlengkapan peralatan chainsaw, alat- alat pemeliharaan dan minyak pelumas
Membawa air minum dan rantang makanan

Operator traktor

Bertanggungjawab atas traktor dan perlengkapanya
Melakukan usaha meminimalkan kerusakan lingkungan lebih lanjut terhadap tegakan tinggal dan lingkungan

Pembantu penyarad

Membantu operator traktor merawat traktor
Mencari batang kayu/log yang akan disarad
Menarik kabel winch dan memasangkannya pada kabel choker/hook
Membantu operator traktor dalam usaha meminimalkan kerusakan labih lanjut setelah pemanenan kayu

KESIMPULAN

Ril adalah suatu sistem pendekatan secara sistematis dalam perencaan,pelaksaan, pemantauan dan evaluasi terhadap pemanenan kayu. Ril merupakan penyempurnaan praktek pembuatan jalan, penebangan dan penyaradan yang saat ini sudah ada. Pedoman RIL yaitu perencanaan pemanenan, operasi pemanenan, pemeliharaan, kesehatan kamp, dan keselamatan kerja, kegiatan pasca pemanenan kayu.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen kehutanan. 1993. Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia: Jakarta, Indonesia
CIFOR. 2001. Pedoman RIL: Jakarta, Indonesia 

Saturday, September 7, 2013

Pengertian Protein dan Asam Amino




Pengertian Protein, Klasifikasi Protein
Sifatnya dan Asam Amino

PROTEIN

Protein adalah senyawa organik kompleks dengan berat molekul tinggi, protein merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Protein mengandung molekul karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus (wikipedia). fungsi utama protein Sebagai enzim, Alat pengangkut dan penyimpan Misalnya hemoglobin mengangkut oksigen dalam eritrosit sedangkan mioglobin mengangkut 
oksigen dalam otot,penunjang mekanis, Media perambatan impuls syaraf misalnya berbentuk reseptor, dan Pengendalian pertumbuhan.

Secara singkat penjelasan tentang protein sebagai berikut :

Protein yaitu Polimerisasi asam amino

Fungsi protein secara singkat yaitu sebagai : katalitik (enzim), kontraksi, pengatur gena, pencegahan, hormon, struktural, transport.

Asam amino merupakan  bagian-bagian dari protein. atau kata lain asam amino akan membentuk protein.

Ikatan-ikatan kuat pada protein : peptida, disulfide dan ikatan lemah : hidrogen, ionik (garam), van der waals (hidrofobik).

Sifat-sifat umum dari protein yaitu :


  • Asam amino : Ninhidrin
  • Protein : Biuret
Denaturasi protein : perubahan sifat protein sehingga tidak alamiah lagi /kerusakan protein. sebab sebab denaturasi protein yaitu :

  • secara fisis : dikocok, sinar, dingin, panas
  • secara kimiawi : + asam, basa, organik
  • Pada denaturasi : ikatan lemah hilang ikatan kuat masih
Klasifikasi protein berdasar sifat protein :

  • Kelarutan : albumin, globulin, fibrinogen
  • Bentuk : globuler, fibrosa
  • Sifatnya dengan elektroforesis
  • Sedimentasi : VLDL, IDL, LDL, HDL.
  • Imunologis : Ig A, D, E, G, M.
  • Struktur tiga dimensi : primer, sekunder, tertier, kuarterner
  • Fungsi biologis : struktural, enzim

Untuk mengetahui kecukupan protein yaitu dengan  mengukur keseimbangan nitrogen.
Keseimbangan nitrogen : perbedaan antara N yang masuk : keluar
Positif : Masuk > keluar contoh anak sedang tumbuh, ibu hamil
Negatif : Masuk < keluar contohnya pasien setelah operasi, kanker lanjut, kwashirkor, marasmus, makan protein.

ASAM AMINO

asam amino akan membentuk protein melalui proses translasi di dalam sel. atau asam amino adalah bagian penyusun dari protein.

  • Asam amino esensiil yaitu asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh manusia. tetapi didapatkan dari makanan (tumbuhan dan hewan)
  • Sifat : Asam amino di alam ± 300 macam yang menyusun protein (manusia, hewan, tumbuhan) = 20 macam asam amino esensial
  • Rumus asam amino : Dua gugus dapat mengalami ionisasi : - COOH (asam) dan -NH2 basa

Pengelompokan asam amino

Alifatis = Gly (G), Ala(A), Val (V), Leu (L), Ile (I)
Hidroksi (-OH) = Ser (S), Thr (T), Tyr (Y)
Sulfur (S) = Cys (C), Met (M)
Asam & amida = Asp (D), Asn (N), Glu (E), Gln (Q)
Basa = Arg (R), Lys (K), His (H)
Cincin aromatis = His (H), Phe (F), Tyr (Y), Trp (W)
Asam imino = Pro (P)

Sumber : Biokimia Herper 2009 

Tuesday, August 27, 2013

Pola- Pola Aliran Sungai

Pola Aliran Sungai yang Diketahui

  1. Pola Aliran Dendritik, Berbentuk seperti cabang batang pohon. Berada di daerah datar dengan struktur batuan homogen. Dendritik: seperti percabangan pohon, percabangan tidak teratur dengan arah dan sudut yang beragam. Berkembang di batuan yang homogen dan tidak terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan perlapisan horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang homogen.

  1. Pola Aliran Rectangular, Pola aliran rectangular adalah pola aliran sungai yang dikendalikan oleh struktur geologi, seperti struktur kekar (rekahan) dan sesar (patahan). Sungai rectangular dicirikan oleh saluran-saluran air yang mengikuti pola dari struktur kekar dan patahan. Rectangular : Aliran rectangular merupakan pola aliran dari pertemuan antara alirannya membentuk sudut siku-siku atau hampir siku-siku. Pola aliran ini berkembang pada daerah rekahan dan patahan.

  1. Pola Aliran Trelllis, Aliran sungai yang anak sungainya hampir sejajar dengan sungai induknya, biasanya berada di wilayah patahan. Trellis: percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak lurus, sungai-sungai utama sejajar atau hampir sejajar. Berkembang di batuan sedimen terlipat atau terungkit dengan litologi yang berselang-seling antara yang lunak dan resisten.

  1. Pola Aliran Annular, Pola aliran annular adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu dan ke arah hilir aliran kembali bersatu. Annular: sungai utama melingkar dengan anak sungai yang membentuk sudut hampir tegak lurus. Berkembang di dome dengan batuan yang berseling antara lunak dan keras.

  1. Pola Aliran Pararel, Sistem pengaliran paralel adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang curam/terjal. Paralel: anak sungai utama saling sejajar atau hampir sejajar, bermuara pada sungai-sungai utama dengan sudut lancip atau langsung bermuara ke laut. Berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur (lipatan monoklinal, isoklinal, sesar yang saling sejajar dengan spasi yang pendek) atau dekat pantai.

  1. Pola Aliran Radial Sentrifugal, Pola aliran radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu, seperti puncak gunung api. Radial Sentrifugal: sungai yang mengalir ke segala arah dari satu titik. Berkembang pada vulkan atau dome. Radial Centripetal: sungai yang mengalir memusat dari berbagai arah. Berkembang di kaldera, karater, atau cekungan tertutup lainnya.
Add caption

Friday, July 26, 2013

Sifat- Sifat Kayu Terutama terhadap Air


Sifat Higroskopis Kayu

Sifat khas kayu.

Mampu melepas dan mengikat kandungan air ke dan dari udara sesuai suhu dan kelembaban udara di sekitarnya.
Bila udara basah (kelembaban tinggi) maka kadar air kayu akan meningkat.
Bila udara kering(kelembaban rendah) maka kadar air kayu akan berkurang.
Kembang Susut
Kayu mengalami penyusutan dan pengembangan ukuran pada perubahan kadar air di bawah Titik Jenuh Serat.
Perubahan kadar air di atas Titik Jenuh Serat tidak menyebabkan perubahan ukuran.
Perubahan dimensi dinyatakan dalam persen dari dimensi maksimum kayu.
Penyusutan (%):

Dimensi Awal - Dimensi Akhir
x
100%
Dimensi Awal

Anisotropis Kayu

Terdapat perbedaan besar penyusutan pada ketiga arah kayu:
Arah tangensial, memiliki penyusutan paling besar, yaitu maksimal 10%
Arah radial, memiliki penyusutan sebesar maksimal 5%
Arah longitudinal, maksimal 0,3 %

Skar (1989) mengemukakan bahwa kayu sebagaimana bahan berlignoselulosa lainnya memiliki sifat higroskopis yaitu  dapat menyerap atau melepas air dari lingkungannya. Tsoumis (1991) menambahkan bahwa air yang diserap dapat berupa uap air atau air dalam bentuk air cair.
                                
Pada kondisi lembab, kayu kering akan menghisap atau menaik uap air, sedangkan pada keadaan kelembaban udara yang rendah, kayu basah akan melepaskan uap air. Sifat higroskopis ini menyebabkan kayu pada kondisi dan kelembaban tertentu dapat mencapai suatu keseimbangan, yang berarti kadar air kayu tidak akan mengalami perubahan. Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa kadar air keseimbangan ini merupakan sebuah ukuran higroskopisitas.

Kadar Air (KA)

Haygreen dan Bowyer (1996) mendefinisikan KA sebagai berat air yang dinyatakan sebagai persen terhadap berat kayu bebas air atau berat kering tanur (BKT)-nya. Di dalam kayu, KA kayu berkisar antara 40 sampai 200%. Keragaman nilai KA dapat terjadi antar spesies, bahkan antar bagian dari pohon yang sama (Forest Product Laboratory Technical 1999).
Air di dalam kayu terdiri dari air bebas dan air terikat dimana keduanya secara bersama-sama menentukan nilai KA kayu. Dalam satu jenis pohon, KA kayu kondisi segar bervariasi tergantung pada tempat tumbuh dan umur pohon (Haygreen dan Bowyer 1996). Brown et. al. (1952) menyatakan bahwa apabila kayu tidak lagi melepaskan atau menyerap air, maka kayu berada dalam kondisi kesetimbangan dengan lingkungan. KA pada kondisi tersebut dinamakan KA keseimbangan (KAK), yang seringkali dianggap sama dengan KA kondisi kering udara (KA-KU).
Besarnya nilai KAK lebih rendah dibandingkan KA-TJS. KAK dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana kayu itu digunakan, terutama suhu dan kelembaban relatif. Menurut Oey Djoen Seng (1964), besarnya KA-KU juga tergantung dari keadaan iklim setempat. Di Indonesia berkisar antara 12 hingga 20%, dan di Bogor sekitar 15%.

Kadar Air Kayu

Kadar air merupakan banyaknya air yang terdapat dalam kayu yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering tanurnya. Air dalam kayu terdapat dalam dua bentuk yaitu air bebas yang terdapat pada rongga sel dan air terikat (imbibisi) yang terdapat pada dinding sel. Kondisi dimana dinding sel jenuh dengan air sedangkan rongga sel kosong, dinamakan kondisi kadar air pada titik jenuh serat. (Simpson, et.al, 1999; Brown, et al., 1952). Kadar air titik jenuh serat besarnya tidak sama untuk setiap jenis kayu, hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur dan komponen kimia. Pada umumnya kadar air titik jenuh serat besarnya berkisar antara 25-30% (Panshin, et.al, 1964). Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa besarnya titik jenuh serat berkisar antara 20-40%.

Kadar Air Titik Jenuh Serat (KA-TJS)

Kondisi dimana rongga sel kosong tetapi dinding sel jenuh terisi air dinamakan kondisi titik jenuh serat (TJS). Kadar air pada kondisi tersebut dinamakan KA-TJS. Titik ini adalah suatu titik kritis, karena dibawah titik ini sifat kayu terganggu oleh adanya perubahan nilai kandungan air. Pada kondisi TJS, perubahan KA akan menyebabkan perubahan berat, volume, dan dimensi kayu (penyusutan dan atau pengembangan) terutama pada arah radial dan tangensial. Perubahan pada arah longitudinal sangat kecil sehingga dapat diabaikan (Haygreen dan Boyer 1996).

Berat Jenis (BJ)

BJ kayu merupakan istilah yang dipakai untuk menunjukkan perbandingan antara kerapatan kayu dengan kerapatan air. Nilai BJ biasanya bertambah jika KA kayu berkurang di bawah TJS-nya (Haygreen dan Bowyer 1996).
Sebagian besar jenis kayu dalam keadaan kering terapung dalam air yang membuktikan bahwa sebagian volume dari kayu berisi rongga-rongga udara dan pori (Forest Product Laboratory Technical 1999). Selain sebagai penduga kekuatan kayu, BJ merupakan suatu indicator yang dapat digunakan untuk menduga mudah tidaknya suatu kayu dikeringkan. Kayu yang memiliki BJ tinggi umumnya sukar dikeringkan dan mengalami cacat lebih besar dibandingkan kayu yang memiliki BJ rendah (Tobing 1995).
Selanjutnya disebutkan bahwa BJ kayu umumnya dipengaruhi oleh ukuran sel, tebal dinding sel serta hubungan antara jumlah sel dengan berat dan tebal dinding sel. Sel serat (fiber) sangat penting pengaruhnya terhadap BJ karena porsinya yang tergolong tinggi sebagai komponen penyusun kayu.
Dengan luasan penampang lintangnya yang relatif kecil, hanya dibutuhkan ruang yang sempit untuk menempatkan jumlah sel yang lebih banyak. Jika serat berdinding tebal dan berongga sempit, maka jumlah rongga udara sedikit dan BJ akan tinggi, sebaliknya jika serat berdinding tipis dan berongga besar maka BJ akan berkurang (Tobing 1976).

Penyusutan

Perubahan KA di atas TJS tidak akan merubah sifat fisis dan mekanis suatu jenis kayu. Sebaliknya perubahan nilai KA di bawah TJS akan mengakibatkan perubahan keteguhan kayu dan diikuti dengan terjadinya penyusutan (bila KA berkurang) atau pengembangan (bila KA bertambah) dimensi.
Menurut Kollmann dan Cote (1968), penyusutan dimensi total dinyatakan sebagai besarnya perbedaan dimensi kayu pada keadaan segar (greenwood) dengan dimensi pada keadaan kering tanur. Nilai penyusutan biasanya dinyatakan sebagai selisih dimensi atau volume dibandingkan
terhadap dimensi atau volume awal, yang dinyatakan dalam persen.
Disebutkan pula penyusutan tangensial berkisar antara 3,5 sampai 15%,sedangkan penyusutan radial sekitar 2,5 sampai 11%. Untuk penggunaan praktis, penyusutan arah longitudinal pada  umumnya diabaikan karena sangat kecil (Haygreen dan Bowyer 1996).
Menurut Tobing (1976), rendahnya nilai susut longitudinal disebabkan karena sebagian besar  arah mikrofibril dalam lapisan dinding sel hampir sejajar terhadap sumbu sel, sedangkan susut  tangensial yang besarnya dua kali dari susut radial, diakibatkan karena adanya tahanan jari-jari,
penyimpangan arah mikrofibril sekitar noktah yang kebanyakan terdapat pada dinding radial  sehingga berpengaruh terhadap penyusutan radial, dan adanya perbedaan struktur dinding sel.
Umumnya kayu dengan BJ tinggi akan menyusut lebih banyak dibandingkan dengan kayu BJ  rendah. Kayu daun lebar (hardwood) biasanya mengalami penyusutan yang lebih besar dibandingkan jenis-jenis kayu daun jarum (softwood ) (Tobing 1995).
Crew dalam Skaar (1972) menyatakan bahwa sel jari-jari merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rasio penyusutan tangensial dan radial.

Sel jari-jari yang pendek dan lebar akan memperkecil penyusutan radial dibandingkan sel jari-jari yang terbentuk panjang tetapi sempit. Pengaruh sudut fibril terhadap sifat penyusutan tangensial dan radial kayu telah dikemukakan oleh Mitchell dan Frey Wiss dalam Skaar (1972)
yang menyatakan bahwa sudut fibril dinding sel radial adalah lebih besar dibanding sudut fibril di dinding sel tangensial. Akibatnya, susut tangensial lebih besar daripada susut radial.
Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), variasi nilai penyusutan pada contoh uji yang berbeda dari spesies yang sama dibawah kondisi yang sama terutama akibat dari tiga faktor yakni: ukuran dan bentuk potongan, kerapatan contoh uji, dan laju pengeringan contoh uji. Menurut Skaar (1972), persen penyusutan volumetris (Sv) dapat ditentukan dengan persamaan Sv = Sr + St
+ Sl – (0,01) (Sr) (St) . Karena nilai Sl sangat kecil dan nilai (0,01) (Sr) (St) kurang dari 0,5%, maka nilai-nilai tersebut biasanya diabaikan, sehingga persamaan diatas menjadi Sv = Sr + St.

Siklus Air Tanah Terhadap Vegetasi



HUBUNGAN AIR TANAH DENGAN VEGETASI

PENGERTIAN AIR TANAH
  Menurut Herlambang (1996) air tanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat didalam ruang antar butir-butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah yang disebut akifer.

MACAM-MACAM AKIFER
ž  Akifer Bebas (Unconfined Aquifer)
ž  Akifer Tertekan (Confined Aquifer)
ž  Akifer Semi tertekan (Semi Confined Aquifer)
ž  Akifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer)

ASAL AIR TANAH
Ò  Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah dan terletak pada zona jenuh air. Air tanah berasal dari permukaan tanah, misalkan hujan, sungai, danau.






SIKLUS AIR TANAH

KLASIFIKASI VEGETASI
  Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).

Ossting (1982), mengklasifikasikan vegetasi terdiri dari 7 macam :
q  Vegetasi Pantai
q   Vegetasi Mangrove/Rawa
q   Vegetasi Payau
q  Vegetasi Gambut
q  Vegetasi Dataran Rendah
q  Vegetasi Dataran Tinggi
q  Vegetasi Pegunungan

HUBUNGAN AIR TANAH DAN VEGETASI

   Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) dapat memberikan stabilitas permukaan tanah yang positif dari jalinan akar dan terhambatnya aliran air di permukaan. Sistim akar tumbuhan yang menyebar secara lateral, keluar dari tumbuhan mengikat butiran tanah menjadi menyatu, meningkatkan kuat geser, atau dapat tumbuh secara vertikal masuk ke dalam tanah hingga menembus lapisan tanah yang lebih stabil.

KESIMPULAN
q  Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah dan terletak pada zona jenuh air
q  Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) dapat memberikan stabilitas pada permukaan tanah